klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

JFC 2026 Tak Hanya Karnaval, UMKM Dayak Kaltim Hadirkan Edukasi dan Pertukaran Budaya di Jember

avatar Muhammad Hatta
  • URL berhasil dicopy
Produk UMKM Asal Suku Dayak, Kalimantan Ikut Promosi dan Giat di JFC 2026.
Produk UMKM Asal Suku Dayak, Kalimantan Ikut Promosi dan Giat di JFC 2026.

KLIKJATIM.Com | Jember – Gelaran Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026 tidak hanya menyuguhkan parade busana spektakuler bertema HEAL (Humanity, Earth, and Life). Lebih dari itu, ajang tahunan ini juga menghadirkan pameran UMKM yang menjadi ruang promosi produk lokal sekaligus sarana pertukaran budaya antardaerah.

Salah satu stan yang berhasil menyedot perhatian ribuan pengunjung adalah kehadiran pelaku UMKM asal Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Mereka memboyong beragam kerajinan khas Suku Dayak selama tiga hari penyelenggaraan JFC.

Stan UMKM Kalimantan Timur dengan nama brand 'Tigatawai Ethnic' tersebut dipenuhi berbagai produk etnik, mulai dari gelang dan kalung manik-manik khas Dayak, tas etnik dan batu giok, kayu bajakah, dan senjata tradisional Mandau

Kehadiran produk-produk otentik ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Pulau Jawa yang ingin mengenal lebih dekat kebudayaan Kalimantan tanpa harus terbang langsung ke Pulau Borneo.

Perwakilan UMKM Kalimantan Timur, Rosalinda, menyampaikan bahwa keikutsertaannya dalam JFC merupakan pengalaman perdana setelah mendapat undangan langsung dari panitia penyelenggara.

"Kami membawa produk-produk UMKM asli Kalimantan Timur, khususnya Balikpapan. Kami sangat antusias mengikuti JFC karena ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kerajinan khas daerah kami kepada masyarakat di Pulau Jawa," ujar Rosalinda saat dikonfirmasi di stannya, Minggu (26/7/2026).

Perempuan yang akrab disapa Ocha ini menjelaskan, seluruh produk yang dibawa merupakan hasil karya perajin lokal. Salah satu yang diunggulkan adalah aksesori berbahan manik-manik khas Dayak yang dirangkai dari batu sungai melalui proses pengerjaan yang panjang.

"Motifnya kami kreasikan sendiri bersama para perajin. Semua dikerjakan secara manual sehingga memiliki ciri khas yang berbeda dengan produk lainnya," imbuhnya.

Ocha menambahkan, keikutsertaan dalam perhelatan JFC memberikan manfaat besar dalam membuka jejaring relasi bisnis serta ajang saling menimba ilmu antar-pelaku usaha kreatif dari berbagai daerah.

"Kami datang bukan hanya untuk berjualan, tetapi juga mencari pengalaman, ilmu, dan relasi. Harapannya tahun depan kami bisa kembali hadir di JFC," harapnya sambil memuji keramahan masyarakat Jember.

Inovasi pameran UMKM antardaerah ini mendapat respons sangat positif dari pengunjung. Salah seorang pengunjung asal Banyuwangi, Nur Imatus Safitri, menilai kehadiran UMKM Kalimantan Timur memberikan nilai tambah berupa edukasi budaya.

"Ini menjadi hal yang unik karena kita bisa mengenal budaya Dayak secara langsung. Tadi dijelaskan tentang berbagai jenis Mandau, bahan pembuatannya, sampai fungsinya yang ternyata juga digunakan sebagai seserahan dalam pernikahan adat Dayak," ungkap Fitri saat memilah aksesori manik-manik.

Fitri berharap konsep pertukaran budaya melalui stan UMKM lintas pulau seperti ini dapat terus dipertahankan dan diperluas pada penyelenggaraan JFC mendatang.

"Indonesia memiliki banyak suku dan budaya. Akan lebih menarik jika ke depan ada UMKM dari Sumatra, Sulawesi, Papua, atau daerah lainnya sehingga masyarakat bisa belajar lebih banyak tentang kekayaan budaya Nusantara melalui JFC," tambahnya.

Melalui kehadiran pameran UMKM lintas daerah ini, JFC 2026 membuktikan diri tidak hanya sebagai ajang pertunjukan fesyen kelas dunia, tetapi juga menjadi wadah penguat ekonomi kreatif, jejaring UMKM, serta media edukasi dan pertukaran budaya yang selaras dengan pesan utama HEAL: Humanity, Earth, and Life.

Editor :