klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Industrialisasi Tumbuh Pesat di Gresik, Local Media Network Bahas Tantangan Kota Santri

avatar Much Taufiqurachman Wahyudi
  • URL berhasil dicopy
Mengusung tema "Red Zone Gresik: Industrialisasi Menggeser Kota Santri", Local Media Network (LMN) menggelar Diskusi Kopi Gresik Episode 3 di D’jiwana Caffe.
Mengusung tema "Red Zone Gresik: Industrialisasi Menggeser Kota Santri", Local Media Network (LMN) menggelar Diskusi Kopi Gresik Episode 3 di D’jiwana Caffe.

KLIKJATIM.Com | Gresik – Arus pesat industrialisasi yang terus bergerak di berbagai wilayah Kabupaten Gresik dinilai membawa tantangan besar bagi seluruh aspek kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat. Fenomena ini menuntut masyarakat lokal untuk mampu beradaptasi cepat sekaligus mengambil peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang kompetitif di dunia industri.

Realitas tersebut mengemuka dalam forum Diskusi Kopi Gresik Episode 3 bertajuk "Red Zone Gresik: Industrialisasi Menggeser Kota Santri" yang digagas oleh Local Media Network (LMN) di D’jiwana Caffe, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Selasa (28/7/2026).

Diskusi yang menghadirkan serangkaian narasumber lintas sektor tersebut dihadiri oleh ratusan peserta.

Ketua Bidang Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gresik, Nur Faqih, menyampaikan bahwa wilayah Gresik Pantura selama ini memegang fondasi keagamaan yang kuat dengan ratusan pondok pesantren. Namun, ekspansi kawasan industri membawa konsekuensi dinamika sosial baru yang harus diantisipasi sejak dini.

Menurut Nur Faqih, ancaman terbesar dari pesatnya industrialisasi bukan sekadar kehadiran bangunan pabrik, melainkan pergeseran sosial ketika arus investasi dan pendatang dari luar daerah mulai memadati wilayah Kabupaten Gresik.

"Ketika wilayah utara mulai dipadati pendatang, maka akan muncul budaya-budaya baru yang sebelumnya tidak pernah kita temui. Ini sesuatu yang tidak bisa dihindari dan harus dipersiapkan sejak sekarang," tegas Nur Faqih, Selasa (28/7/2026).

Nur Faqih menekankan pentingnya masyarakat Pantura dalam membentengi diri dengan nilai Islam rahmatan lil alamin, sikap toleransi, serta kemampuan beradaptasi di tengah keberagaman budaya. Selain itu, ia turut menyoroti tantangan generasi muda di era digital, di mana penggunaan gawai dan kecerdasan buatan (AI) berpotensi menurunkan kepekaan sosial jika tidak diimbangi budaya literasi serta pola pikir kritis dari lingkungan keluarga dan pesantren.

Menjawab tantangan arus modernisasi industri tersebut, tokoh masyarakat Kecamatan Dukun, Agus Ahmad Musfis Salam (Gus Salam), mengungkapkan bahwa lembaga pesantren di Gresik kini mulai berbenah. Banyak pesantren yang telah membuka jalur sekolah vokasi dan pelatihan keterampilan untuk mencetak santri yang siap kerja tanpa mengesampingkan pembentukan karakter keislaman.

Gus Salam mengingatkan, pola industrialisasi berpotensi memicu persoalan sosial baru seperti perubahan pola pendidikan keluarga dan berkurangnya pengawasan orang tua akibat jam kerja industri yang panjang.

"Pesantren sudah mulai menjawab tantangan zaman. Banyak yang membuka sekolah vokasi dan pendidikan keterampilan agar para santri memiliki bekal yang cukup ketika memasuki dunia kerja tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan," jelas Gus Salam.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kabupaten Gresik, Agustin Halomoan Sinaga, menegaskan bahwa pemeliharaan ketertiban dan ketenteraman masyarakat tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, melainkan memerlukan keterlibatan aktif elemen RT, RW, pihak desa, hingga tokoh agama.

Sinaga mendorong pengaktifan kembali Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) sebagai deteksi dini terhadap potensi gangguan kamtibmas. Ia juga membeberkan hasil penindakan di lapangan terkait maraknya peredaran minuman keras, prostitusi terselubung, hingga ditemukannya gudang penyimpanan narkotika dan rokok ilegal, yang mana sebagian besar pelakunya merupakan warga pendatang dari luar Gresik.

"Satpol PP tidak akan bisa bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat dan media. Karena itu, kami mengajak seluruh elemen untuk bersama-sama menjaga Kabupaten Gresik. Pencegahan paling efektif adalah ketika masyarakat ikut peduli dan bersama-sama menjaga lingkungannya," pungkas Sinaga.

Melalui forum diskusi ini, para pihak menyimpulkan bahwa kemajuan ekonomi dari sektor industri dan identitas Gresik sebagai Kota Santri dapat berjalan berdampingan melalui sinergi serta kolaborasi yang erat antara pemerintah, pesantren, tokoh masyarakat, dan dunia usaha.

Editor :